Rabu, 20 Juli 2016

Siklus Menstruasi



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Haid (menstruasi) ialah perdarahan yang siklik dari uterus sebagai tanda bahwaalat kandungan dalam tubuh seorang wanita menjalankan fungsinya. Panjang siklushaid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid yang baru.Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Panjang siklus haid yangdianggap normal biasanya adalah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas, bukan sajaantara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama. Juga pada kakak beradik  bahkan saudara kembar, siklusnya selalu tidak sama. Lebih dari 90% wanitamempunyai siklus menstruasi antara 24 sampai 35 hari.
            Lama haid biasanya antara 3 ± 6 hari, ada yang 1 ± 2 hari dan diikuti darahsedikit sedikit kemudian, dan ada yang sampai 7 ± 8 hari. Pada setiap wanita biasanyalama haid itu tetap. Kurang lebih 50% darah menstruasi dikeluarkan dalam 24 jam pertama. Cairan menstruasi terdiri dari autolisis fungsional, exudat inflamasi, sel darahmerah, dan enzym proteolitik.Siklus menstruasi normal pada manusia dapat dibagi menjadi dua segmen :siklus ovarium dan siklus uterus. Siklus ovarium lebih lanjut dibagi menjadi fasefollikular dan fase luteal, mengingat siklus uterus juga dibagi sesuai fase proliferasidan sekresi. Siklus ovarium digolongkan seperti :
a)      Fase follikuler: pada fase ini terjadi umpan balik hormonal yang menyebabkan maturisasi follikel pada pertengahan siklus yang dipersiapkan untuk ovulasi.Lama fase folikuler ini kurang lebih 10-14 hari.
b)      Fase luteal: yaitu fase waktu dari awal ovulasi sampai awal menstruasi, denganwaktu kurang lebih 14 hari. (Guyton, 2007)



1.2 Rumusan Masalah
            Berdasarkan Latar belakang diatas timbul permasalahan sebagai berikut :
            1. Bagaimana perubahan Ovarium dalam siklus Menstruasi
            2. Hormon - hormon yang terlibat dalam siklus menstruasi


1.3 Tujuan
            1. Mengetahui perubahan Ovarium dalam siklus Menstruasi
            2. Hormon-hormon apa saja yang terlibat dalam siklus menstruasi



 


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  SIKLUS MENSTRUASI
            2.1.1 Pengertian
Menstruasi adalah perdarahan periodik dari uterus yang dimulai sekitar 14 hari setelah ovulasi secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus (Bobak, 2004).
Suzannec (2001), mendeskripsikan siklus menstruasi adalah proses kompleks yang mencakup reproduktif dan endokrin. Menurut Bobak (2004), Siklus menstruasi merupakan rangkaian peristiwa yang secara kompleks saling mempengaruhi dan terjadi secara simultan.
2.1.2 Fisiologis Siklus Menstruasi
Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara hipotalamus,hipofisis, dan ovarium dengan perubahan-perubahan terkait pada jaringansasaran pada saluran reproduksi normal, ovarium memainkan peranan pentingdalam proses ini, karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturanperubahan-perubahan siklik maupun lama siklus menstruasi (Bobak, 2004).
Ovarium menghasilkan hormon steroid, terutama estrogen danprogesteron. Beberapa estrogen yang berbeda dihasilkan oleh folikel ovarium,yang mengandung ovum yang sedang berkembang dan oleh sel-sel yang mengelilinginya. Estrogen ovarium yang paling berpengaruh adalah estradiol.Estrogen memainkan peranan penting dalam perkembangan payudara dan dalam perubahan siklus bulanan dalam uterus.Progesteron juga penting dalam mengatur perubahan yang terjadi dalam uterus selama siklus menstruasi. Progesteron merupakan hormon yang paling penting untuk menyiapkan endometrium yang merupakan membran mukosa yang melapisi uterus untuk implantasi ovum yang telah dibuahi. Jika terjadi kehamilan sekresi progesteron berperan penting terhadap plasenta dan untuk mempertahankan kehamilan yang normal. Sedangkan endrogen juga dihasilkan oleh ovarium, tetapi hanya dalam jumlah kecil. Hormon endrogen terlibat dalam perkembangan dini folikel dan juga mempengaruhi libido wanita (Suzannec, 2001). Menstruasi disertai ovulasi terjadi selang beberapa bulan sampai 2-3 tahun setelah menarche yang berlangsung sekitar umur 17-18 tahun. Dengan memperhatikan komponen yang mengatur menstruasi dapat dikemungkakan bahwa setiap penyimpangan system akan terjadi penyimpangan pada patrum umun menstruasi. Pada umumnya menstruasi akan berlangsung setiap 28 hari selama ±7 hari. Lama perdarahannya sekitas 3-5 hari dengan jumlah darah yang hilang sekitar 30-40 cc. Puncak pendarahannya hari ke-2 atau 3 hal ini dapat dilihat dari jumlah pemakaian pembalut sekitar 2-3 buah. Diikuti fase proliferasi sekitar 6-8 hari (Manuaba dkk, 2006).

2.1.3 Bagian-bagian Siklus Menstruasi
     Menurut Bobak (2004), ada beberapa rangkaian dari siklus menstruasi, yaitu:
            1.) Siklus Endomentrium
Siklus endometrium menurut Bobak (2004), terdiri dari empat fase, yaitu :
         a) Fase menstruasi
Pada fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan disertai pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya stratum basale. Rata-rata fase ini berlangsung selama lima hari (rentang 3-6 hari). Pada awal fase menstruasi kadar estrogen, progesteron, LH (Lutenizing Hormon) menurun atau pada kadar terendahnya selama siklus dan kadar FSH (Folikel Stimulating Hormon) baru mulai meningkat.
b) Fase proliferasi
Fase proliferasi merupakan periode pertumbuhan cepat yang berlangsung sejak sekitar hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus haid, misalnya hari ke-10 siklus 24 hari, hari ke-15 siklus 28 hari, hari ke-18 siklus 32 hari. Permukaan endometrium secara lengkap kembali normal sekitar empat hari atau menjelang perdarahan berhenti. Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm atau sekitar 8-10 kali lipat dari semula, yang akan berakhir saat ovulasi. Fase proliferasi tergantung pada stimulasi estrogen yang berasal dari folikel ovarium.
c) Fase sekresi/luteal
Fase sekresi berlangsung sejak hari ovulasi sampai sekitar tiga hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Pada akhir fase sekresi, endometrium sekretorius yang matang dengan sempurna mencapai ketebalan seperti beludru yang tebal dan halus. Endometrium menjadi kaya dengan darah dan sekresi kelenjar.
d) Fase iskemi/premenstrual
Implantasi atau nidasi ovum yang dibuahi terjadi sekitar 7 sampai 10 hari setelah ovulasi. Apabila tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum yang mensekresi estrogen dan progesteron menyusut. Seiring penyusutan kadar estrogen dan progesteron yang cepat, arteri spiral menjadi spasme, sehingga suplai darah ke endometrium fungsional terhenti dan terjadi nekrosis. Lapisan fungsional terpisah dari lapisan basal dan perdarahan menstruasi dimulai.






BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Haid (menstruasi) ialah perdarahan yang siklik dari uterus sebagai tanda bahwa alat kandungan dalam tubuh seorang wanita menjalankan fungsinya. Panjang siklushaid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid yang baru.Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus.
yang sering ditandai dengan
Rasa sakit yang dimulai pada hari pertama menstruasi   Terasa lebih baik setelah pendarahan menstruasi mulai
.           Namun, ada juga wanita yang masih merasakan nyeri perut meskipun sudah dua hari haid.
c)              Nyeri pada perut bagian bahwa, yang bisa menjalar ke punggung bagian bahwa dan tungkai.

3.2 Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan melalui makalah ini adalah:
1.      Kepada setiap perempuan,agar selalu memperhatikan siklus haidnya,untuk menghindari terjadinya gangguan- gangguan yang berhubungan dengan haid.
2.      Kepada setiap orang tua,terutama orang tua perempuan,agar dapat menjelaskan tentang haid kepada anak-anaknya ,untuk mengurangi rasa takut yang sering dialami oleh anak-anak ketika menghadapi menarche (haid yang pertama kali datang).
3.      Kepada tenaga kesehatan ,agar dapat menjelaskan mengenai segala hal yang berhubungan dengan haid , terutama gangguan-gangguan selama haid.




DAFTAR PUSTAKA

·         http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24617/4/Chapter%20II.pdf
·         http://www.siklusmenstruasi.com/





Kehamilan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Kehamilan merupakan periode dramatis terhdapa kondisi biologis wanita disertai dengan perubahan – perubahan psikologis dan terjadinya poroses adaptasi terhadap pola hidup dan proses kehimalan itu sendiri. Informasi yang sama, tampak juga dalam buku Acuan Nasional pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal (2002) yang menyebutkan bahwa kehamilan merupakan perubahan fisik maupun emosional seorang wanita serta perubahan sosial dalam keluarga. Pada saat seorang wnait amnegalami hamil maka akan terjadi perubahan – perubahan yang bersifat fisik maupun emosional.

Pada umumnya , dalam periode kehamilan akan terjadi perubahan kondisi fisik dan tanda – tanda fisiologis mulai dari mual dan muntah – mutnah , kepala pusing sampai timbulnya keluhan secara umum sperti rasa panas dalam perut khsusunya pada lambung (heartburn).

Lamdhah (2011) mengungkapkan bahwa keluhan berkaitan dengan timbulnya rasa panas dlam perut tergolong sederhana namun dapat menimbulkan kegelisahan dan kelelahan pada ibu hamil. Seiring dengan perubahan – perubahan tersebut terjadi pula perubahan emosional yang kompleks, sehingga memerlkan adpatasi terhadap penyesuian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi.

1.2.       Rumusan Masalah
1.2.1.      Apa yang dimaksud dengan kehamilan ?
1.2.2.      Apa saja tanda – tanda kehamilan pada wanita?
1.2.3.      Bagaimana perubahan – perubahan yang terjadi pada wanita hamil baik fisik maupun psikologi seiring dengan berkembangnya uterus?

1.3.       Tujuan
1.3.1.      Untuk mengetahui definisi kehamilan.
1.3.2.      Untuk mengetahui tanda – tanda kehamilan pada wanita.
1.3.3.      Untuk mengetahui perubahan – perubahan yang terjadi pada wnaita hamil baik fisik maupun psikologi seiring dengan berkembangnya uterus.

1.4.       Manfaat
Mahasiswa dapat mengetahui tanda – tanda wanita hamil dan perubahan – perubahannya baik dari segi fisik maupun psikologi seiring dengan berkembang uterus.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.       Anatomi dan Fisiologi
Organ reproduksi wanita terdiri dari dua bagian yaitu alata kelamin luar (genitalia luar) dan alat kelamin dalam (genetalia dalam).
2.1.1.      ALAT KELAMIN LUAR
1)      Vulva
Adalah alat kelamin bagian luar tempat bermuaranya system urogenital, dilingakri oleh labia mayora ke belakang menjadi satu dengan kommisura posterior dan perineum, di bawah kulit vulva terdapat jaringan lemak (mons veneris). Bagian media dari labia mayora ditemukan bibir kecil (labia minora) ke arah perineum yang menjadi satu dan membentuk frenolum labiorum pudenda. Bagian depan frenolum terdapat fossa nafikulare, sedangkan pada kiri kanan fossa nafikulare terdapat dua bua lubang kecil tempat bermuaranya glandula bartholini. Bagian depan labia minora menjadi satu membentuk preposium klitoris dan di bawah preposium klitoris terdapat klitoris, kira – kira 1,5 cm di bawah klitoris terdapat orifisum uretra eksterna (lubang kemih), di kiri dan kanan lubang kemih terdapat dua lubang kecil dari saluran buntu (duktus skene).
2)      Mons pubis Mons veneris
Mons pubis adalah bagian menonjol yang melingkar di depan simpisis pubis yang dibentuk oleh jaringan lemak di bawah kulit, meliputi daerah simpisis yang ditumbuhi rambut pada masa pubertas.
3)      Labia mayora
Adalah lipatan kuit yang menonjol secara longitudinal yang memanjang ke bawah dna ke beklakang dari mons oubis dan membentuk batas lateral yang banyak mengandung saraf. Masing – masing labium mempunyai dua permukaan yaitu bagian luar yang mempunyai pigmen dan ditutupi oleh rambut keriting dna bagian dalam yang permukaannya licin dan glandula yang membentuk kommisura labialis posterior.
4)      Labia Minora
Labia minora adalah lipatan kecil yang terdapat diantara labia mayora. Labia minora memanjang dari klitoris secara obligue ke bawah dan samping belakang sepanjang 4 cm di sisis orifisium vagina. Ujung posterior labia minora bergabung pada garis median oleh lipatan kullit disebut frenolum.
Masing – masing libia minora terbagi menjadi  :
·           Bagian atas : melalui klitoris bergabung dengan yang lain membentuk lipatan yang menggantung pada glans klitoris.
·           Bagian bawah : melalui bawah klitoris dan membentuk permukaan bawah yang saling berhubungan dinamakan frenolum klitoris.
5)      Klitoris
Klitoris adalah tonjolan kecil yang melingkar berisi jaringan erektil yang sensitif, terdapat di bawah kommisura labia anterior dan sebagian tersembunyi di antara ujung anterior labia minora, dan banyak mengandung saraf. Klitoris terdiri atas :
·      Korpus karernosus : mengandung jaringan erektil yang ditutupi oleh lapisan padat.
·      Membran fibrosa : bergabung sepanjang permukaan medial oleh septum pektini formis.

6)      Vestibulum vagina
Celah yang terletak diantara labia minora dan di belakang glans klitoris. Didalamnya terdapat orifisium uretra 2,5 cm yang terletak di belakang glans klitoris diikuti dengan vagina yang merupakan muara duktus vestibularis mayor, liang senggama, kelenjar bartholini dan kelenjar skene kiri dan kanan.
7)      Hymen
Himen (selaput dara) adqlah lapisan tipis yang menutupi liang senggama. Pada bagian liang senggama. Pada bagian tengahterdapat lubang tempat keluarnya menstruasi, bentuknya bervariasi bila teregang akan terbentuk cincin. Pada waktu koitus (coitus) pertama, himen robek di beberapa tempat dan pada sisa himen yang ruptur ditemukan penonjolan kecil disebut karunkula mirtiformis (caruncula mirtiformis). Diantara himen dan frenolum labia terdapat lekukan kecil yang disebut fossa navikularis (fossa navicularis).
8)      Orifisium vagina
Orifisium vagina adalah celah yang terdapat dibawah belakan muara uretra, ukurannya tergantung pada himen, dan lipatan pinggir dalamnya berkontak satu sama lainnya, orifisium vagina muncul sebagai cela diantara orifisium vagina.
9)      Bulbus vestibular
Terdiri atas dua masa erektil dari masing – masing sisi orifisium vagina yang disebut pars intermedia, masing – masing masa lateralis memiliki panjang 2,5 cm. Ujung posterior di perpanjang dan berkontak dengan glandula vestibularis mayor, ujung anterior bergabung satu dengan yang lain oleh pars intermedial dan permukaan dalam lapisan superfisialis diafragma dan ditutupi muskulus bulbokavernosus (muskulus bulnocavernosus).
10)  Glandula vestibula mayor (kelenjar bartholini)
Terdiri dari dua bagian melingkar dengan warja merah kekuning – kuningan pada bagian orfisium vagina ujung posterior dari bulus vestibule.

2.1.2.      ALAT KELAMIN DALAM
1)      Vagina
Vagina merupakan penghubung antara genetalia ekternal dan interna. Bagian depan vagina berukuran 6,5 cm, sedangkan bagian belakang berukuran 9,5 cm. Sumbunya kira –kira sejajar dengan arah pinggir bahwa simpisis ke promontorium. Arah ini penting diketahui saat memasukkan jari ke dalam vagina untuk memeriksa ginekologi. Pada puncak vagina, bagian yang menonjol dari leher rahim disebut porsio (portio)

Beberapa lapisan epitel vagina merupakan squamosa. Lapisan ini tidak mengandung kelenjar, tetapi mengadakan transudisi(cairan keluar jaringan). Pada anak kecil, epitel ini sangat tipis sehingga mudah terkena infeksi. Mukosa vagina berlipat – lipat secara horizontal, lipatan ini dinamakan rugae yang terletak di tengah bagian depan dan bagian belakang. Pada bagian bahwa epitel vagina terdapat jaringat ikat dan otot yang tersusunnya seperti usus. Dinding belakang vagina lebih panjang dan membentuk formiks posterior (fornix posterior) yang berbagi lagi menjadi formiks lateralis sinistra dan formiks lateraris destra.


2)      Rahim (Uterus)
Uterus orang dewasa merupakam organ tebal seperti buah apukat atau buah peer yang sedikit gepeng, terletak dalam rongga pelvis antara rektum dan kandung kemih. Ukuran uterus adalah panjang 7 – 7,5 cm, lebar 5 cm , dan tebal 2,5 cm. Uterus pada wanita dewasa umumnya terletak di sumbu tulang panggul dan posisi anterversio fleksio, membentuk sudut dengan vagina, sedangkan korpus uteri ke arah depan membentuk sudut 120 – 130 derajat dengan serviks uteri.
Bagian – bagian dari uterus adalah sebagi berikut.
a.    Fundus uteri (dasar rahim)
Ditutupi oleh peritoneum, berhubungan dengan fasies vesikularis dan permukaan internalis. Pada bagian atas bermuara tuba uteri yang menembus diding uterus. Di bawah dan depan titik pertemuan terdapat ligamentum dan di belakangnya terdapat ovarium.
b.   Korpus uteri
Di dalamnya terdapat rongga (cavum uteri) yang membuka keluarv melalui saluran kanalis servikalis yang terletak pada serviks. Bagian ini merupakan tempat berkembangnya janin.
c.    Serviks uteri
Merupakan bagian uterus yang menyempit, berbentuk kerucut dengan apeks yang menjurus ke bawah dan kebelakang dengan sedikit lebar di pertengahanya. Sumbuh panjang serviks sama dengan sumbuh panjang korpus yang berbentuk garis bengkok ke depan.
Serviks uteri dibagi atas dua bagian :
1)   Porsio supra vaginalis
Dipisahkan dari kandung kemih oleh parametrium yang memanjang pada sisis lateral uterus di antara ligamentum latum uretra dan uterus, berjalan ke bbawah dan ke depan di dalam parametrium ssepanjang 2cm dari serviks, bagian posterior supra vaginalis ditutupi oleh peritoneum.
2)   Prsio vaginalis
Terdapat di antara forniks anterior dan forniks pasterior. Pada ujung porsio terdapat orifisium eksternal uteri dimana serviks eksterna uteri dibatsi oleh suatu bibir (bibir atas dab bibir bahwa), kedua bibir ini berkontak dengan dinding posterior vagina.

Ø Bagian dalam uterus
Kavum uteri : bangunan berupa segitiga dimana basis dibentuk oleh permukaan dalam fundus diantara tuba uterina. Kavum uteri dilapisi oleh selaput lendir yang kaya dengan kelenjar, bagian apeks dibentuk oleh orifisium interna uteri diman kavum uteri bergabung dengan kanalis servisis (canalis cervicis) melalui orifisium interna, terdiri dari :
1)   Endometrium : terdiri dari jaringan epitel dan kelenjar yang banyak mengandung pembuluh dara yang berlekuk – lekuk. Bagian korpus uteri endometrium licin dan bagian serviks berkelok – kelok. Kelenjarnya bermuara pada kanalis servikalis. Pertumbuhan dan fungsi endometrium dipengaruhi oleh hormon steroid ovarium.
2)   Miometrium : lapisan otot yang tersusun sedemikian rupa hingga dapat mendorong isinya pada waktu persalinan. Bagaian ini akan mengecil kembali setelah plasenta keluar.
3)   Perimetrium (lapisan luar) : dilapisi oleh peritoneum viseral, ditemukan pada dinding korpus uteri serosa atau peritoneum. Uterus mendapat darah dari arteri uterina cabang dari arteri iliaka interna yang menjadi arteri ovarika.

Ø Kanalis servisis uteri
Berhubungan dehgan kavum uteri melalui orifisium uterina interna. Bagian bawahnya behubungan dengan vagina melalui orofisium uteri eksternus. Pada dinding kanalis servisis terdapat lupatan – lipatan longitudinal, masing – masing akan menjadi plika yang disebut arbovital uterina. Lipatan kedua dinding ini menutupi kanalis servisis dengan panjang dari kavum uteri ke orifisium eksternus 6,25 cm. Fungsi uterus adalah menahan ovum yang telah dibuahi dan bertahan dalam endometrium sampai saat melahirkan, uterus akan berkontraksi mendorong janin keluar.

Ø Penyokong uterus
Penyokong utama uterus adalah diafragma pelvis, muskulus levator ani, dan fasia lavator ani. Uterus ditahan dalam posisi yang kuat dalam pelvis oleh vagina, ligamentum kardinale, ligamentum latum, dan uterus saklaris. Jaringan lemak disekitar ligamentum dan uterus merupakan elemen penting dalam menyokong uterus. 


Ø Posisi uterus
1)   Pada masa pubertas
Uterus berbentuk firiformis dengan berat 14 – 17 gram dan berada dalam rongga pelvis. Pada waktu kandung kemih kosong korpus uteri hampir horizontal. Fundus berada 2 cm di belakang simpisis pubis. Pada keadaan menstruasi, uterus membesr karena lebih banyak vaskularis (bentukan pembulu darah dan jaringan baru) dan permukaan membulat. Orifisium eksternus berbentuk bulat, labia membengkak, endo metrium menebal dan lebih lunak.
2)   Selama kehamilan
Uterus membesar pada bulan kedelapan mencapai regio epigastrika. Pertambahan ukuran disebabkan pertumbuhan otot yang telah ada dan sebagian pertumbuhan otot baru.
3)   Sesudah melahirkan
Uterus hampir kembali pada ukuran semula, beratnya 42 gram karena uteri lebih besr, serta pembuluh darah dan otot bertambah.
4)   Pada umur tua
Uterus menjadi atropi dan pucat sehingga lebih memisahkan uterus dan serviks.

Ø Pembuluh darah uterus
1.    Arteri uterina : cabang dari hipogastrika, sebelum sampai ke bagian supra vaginal bercabang dua yaitu cabang kecil arteri servika vaginalis memberikan darah untuk serviks dan bagian atas vagina, sedangkan cabang utama membelok ke atas sepanjang pinggir iterus menembus korpus uteri,
2.    Arteri ovarika : cabang dari aorta masuk ke ligamentum latum melalui ligamentun infundibulum pelvikum sampai hilus ovarium akan bercabang kecil Lalu masuk uterus, sedangkan cabang utama melewati ligamentum dan beranastomosis dengan arteri uterina.
3.    Vena uterus : berlawanan dengan arteri, darah uterus (vena arkuarta) akan bergabung membentuk vena uterina pada tiap – tiap sisi dan masuk ke vena hipogastrika. Darah dari ovarium bagian atas ligamentum latum dikumpulkan oleh pleksus pelvini formis di dalam ligamentum latum masuk ke vena ovarika.

Ø Pembuluh saraf
Cabang dari pleksus hipogastrikus dan pleksus ovarikus dari nervi servikal III – IV.  Serebut aferens uterus masuk ke mendula spinalis melalui nervi torakal XI – XII.

3)   Tuba Falopii
Saluran telur yang menyangkut ovum dari ovarium ke vakum uteri, panjang nya ± 11- 14 cm. Tuba falopiiterdiri atas 2 bagian mulai dari sisi pelvis ke sudut superior lateral uterus. Masing – masing tergantung pada plika peritonial mesenterium yang meliputi margo superior dan berdekatan dengan ligamentum latum.
Tuba falopii terdiri atas :
1)   Pars interstialis : bagian tuba yang terdapat di dalam uterus,
2)   Pars ismika / istmus : bagian yang sempit pada sudut antara uterus dan tuba,
3)   Pars ampularis / ampula : bagian yang membentuk saluran yang lebar meliputi ovarium,
4)   Infumdibulum : bagian ujung tuba yang terbuka mempunyai umbul/ rumbai yang disebut fimbriae, melekat pada ovarium untuk menangkap telur yang dilepas oleh ovarium menuju tuba.
Bagian luar tuba diliputi oleh peritoneum veseral yang merupakan bagian dari ligamentum latum. Otot dinding tuba terdiri atas muskulus longitudinal dan muskulus sirkuler. Pada bagian dalam terdapat mukosa yang berlipat – lipat ke arah longitidinal terutama pada bagian ampula. Pada lapisan mukosa terdapat serabut yang mengeluarkan sekresi (getah) sehingga menimbulkan arus ke arah kavum uteri. Tuba falopii mengarah ke lateral sejauh ekstremitas inferior, dari posterior dan fasises medialis dari ovarium, serta berhubungan dengan fimbriae tuba uterina yaitu rongga yang bertangkai yang disebut appendiks vesikulosa (appendix vesiculosa).
4)   Ovarium
Kelenjar yang terletak di kanan kiri uterus terkait oleh ligamentum uterus. Ovarium berhubungan dengan uterus melalui ligamentum ovarii propium yang terletak pada lapisan belakang ligamentum latum. Sebagian besar ovarium terletak pada intra peritoneal dan tidak dilapisi oleh peritoneum.

Bagian ovarium yang berada di dalam kavum peritoneal (cavum peritonei) dilapisi oleh epitel kubik yang disebut juga epitelium germinativum. Pada bagian bahwa epitel ini terdapat tunika albuginea dan di bawah tunika albiginea ditemukan lapisan yang banyak terdapat folikel.

Setiap bulan folikel ini berkembang menjadi folikel de graaf. Folikel ini merupakan bagian ovarium yang terpenting, dapat ditemukan di korteks ovarii (cortex ovarii) dalam letak yang beraneka ragam dan dalam tingkat perkembangannya dari satu sel telur yang dikelilingi oleh satu lapisan sel saja sampai folikel de graaf matang. Folikel yang matang terisi dengan liquor folikuli yang mengandung estrogen dan siap berovulasi.

Ø Pembulu darah ovarium
Arteri yang menyuplai ovarium dan tuba interna adalah arteri ovarika cabang dari aorta abdominalis, masing – masing beranastomosis dengan arteri uterina dan memberi beberapa cabang ke tuba uterina, cabang yang melalui mesovarium akan masuk ke hilus ovarium. Vena muncul dari hilus dam membentuk plexus pompaniformis. Vena ovarika yang dibentuk dari plexus ini meningkatkan pelvis.

Ø Saraf ovarium
Cabang dari hipogastrikus atau pleksus pelvikus akan membentuk pleksus ovarikus tuba interna (pluxus ovarius tuba interna) yang menerima cabang dari nerves internus.

2.2.       Jaringan Penunjang Alat Genitalia
Uterus berada di rongga panggul dalam posisi anteversiofleksio sedemikian rupa sehingga bagian depan setinggi simpisis pubis dan bagian belakang setinggi artikulasiao sakrokoksigea. Jaringan ikat di parametrium dan ligamentum membentuk suatu sistem penunjang uterus sehingga uterus terfiksasi relatif cukup baik. Jaringan tersebut terdiri atas.

1)      Ligamentum kardinal sinistrum dan dekstrum
Merupkan ligamentum yang terpenting untuk mencegah agar uterus tidak turun. Ligamentum ini terdiri atas jaringan ikat tebal berjalan dari serviks sampai puncak vagina ke arah lateral dinding pelvis banyak pembuluh darah.
2)      Ligamentum sakrouterium sinistrum dan dekstrum
Ligamentum yang menahan uterus supaya tidak banyak bergerak, berjalan melengkung dari belakang serviks kiri dan kanan melalui dinding rektum ke arah os sakrum kiri dan kanan.
3)      Ligamentum rotundum sinistrum dan dekstrum
Menahan uterus dalam posisi antefleksi dan berjalan dari sudut fundus uterus kiri dan kanan ke daerah inguinal kiri dan kanan.
4)      Ligamentum pubovesikule sinistrum dan dekstrum
Berjalan dari os pubis melalui kandung kemih seterusnya ke ligamentum vesikouterium sinistra dan dekstra ke serviks.
5)      Ligamentum latum sinistrum dan dekstrum
Berjalan dari uterus ke lateral, tidak banyak mengandung jaringan ikat, merupakan bagian dari peritoneum veseral yang meliputi uterus dan kedua tuba. Bentuknya seperti lipatan. Bagian lateral dan belakang ditemukan indung telur.
6)      Ligementum infundibulum pelvikum
Menahan tuba falopii dan berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis. Didalamnya ditemukan urat saraf saluran limfe, arteri, dan vena ovarika alat penunjang.
7)      Ligamentum ovarii proprium sinistrum dan dekstrum
Berjalan dari sudut kiri dan kanan belakang fundus uteri ke ovarium. Ligamentum ini mudah dikendurkan sehingga alat genital mudah berganti posisi. Ligamentum latum merupakan suatu lipatan peritoneum yang menutupi uterus dan kedua tuba

2.3.       Peritoneum
Peritoneum veseral menutupi sebagian besar alat genitalia interna, bagian yang tidak ditutupi peritoneum dinamakan retroperitoneal. Di depan dan dibelakang uterus, peritoneum veseral menutupi suatu cekungan dinamakan plika vesikouterina. Indung telur sebagian besar terletak intraperitonial, hanya hilus ovarii letaknya ektra peritonial antara kedua lipatan ligamentum latum.

2.4.       Kelenjar Mamae
Pada wanita kelenjar mame mulai berkembang pada permulaan pubertas (adolescence) pada umur 11 – 12 tahun. Kelenjar mamae tumbuh menjadi besar pada bagian lateral linea akksilaris anterior/ media sebelah kranial ruang interkostalis III dan sebelah kaudal ruang interkostalis VII-VIII.
            Terdapat di atas bagian luar fasia torakalis di daerah jaringan lemak subkutis.
·      Ke arah lateral sampai ke linea aksilaris medial.
·      Ke arah medial melewati linea media mencapai kelenjar mamae sisi lain.
·      Ke arah bawah : mencapai daerah aksila (lipatan ketiak)
Kelenjar mamae menyebar di sekitar areola mamae dan mempunyai lobus antara 15-20 lobus. Tiap lobus berbentuk piramid dengan puncak mengarah ke areola mamae masing – masing lobus dibatasi oleh septum yang terdiri atas jaringan fibrosa yang padat. Serat jaringan ikat fibrosa terbentang dari kulit ke fasio pektoralis yang menyebar di antara jaringan kelenjar.
Tiapa lobus kelenjar mamae mempunyai saluran keluar yang disebut duktus laktiferus (duktus lactiferi) yang bermuara ke papila mamae. Pada daerah areola mamae, duktus laktiferus melebar disebut sinus laktiferus ( sinus lactiferi), di daerah terminalis lumen sinus ini mengecil dan bercabang – cabang ke aveoli. Di antara jaringan kelenjar dan jaringan fibrosa, ruangannya diisi oleh jaringan lemak yang membentuk postur dari mamae sehingga permukaan mamae terlihat rata. Kelenjar mamae dapat dipisahkan dengan mudah dari fasia sehingga kedudukan mamae mudah bergeser.
Ø  Pembuluh darah mamae
Berasal dari arteri mammaria interna dan arteri torakalis lateralis (artery thoraca lateralis). Vena superfisialis mamae mempunyai banyak anastomosis bermuara ke vena mammaria interna dan vena torakalis interna (vena thoracica interna)/ epigastrika, sebagian besar bermuara ke vena torakalis lateralis (vena thoracica lateralis).

Ø  Pembuluh limfe mamae
1.    Aliran limfe superfisialis 75% mengalir ke saluran torakalis lateralis berjalan bersama arteri dan vena dipinggir lateral mukulus pektoralis mayor (musculus pectoralis major) bermuara di nervus ke 11 aksilaris dan nerves supraklavikularis (nervus supraclavicularis).
2.    Aliran limfe profunda mengalir ke dinding torak menembus muskulus pektoralis mayor bermuara ke nervus ke 11 pektoralis sepanjang arteri dan vena mamaria interna.
3.    Bagian medial aliran limfe subkutan berhubungan antara kedua mamae dan bermuara ke nervus 11 supraklavikularis.

Ø  Pubertas dan manarke (manarche)
Pubertas adalah dimulainya kehidupan seksual dewasa, sedangkan manarke (manarche) adalah periode dimulainya menstruasi. Periode pubertas terjadi karena kenaikan sekresi hormon gonadotropin oleh hipofisis yanh dimulai pada tahun ke 8 dari kehidupan dan mencapai puncak pada saat terjadi menstruasi pada usia 11- 16 tahun

Pada wanita kelenjar hipofisis dan ovarium akan mampu menjalankan fungsi penuh apabila dirangsang secara tepat. Timbulnya pubertas dirangsang oleh beberapa proses pemantangan dan berlangsung di daerah otak yaitu hipotalamus dan sistem limbik, ditandai dengan hal – hal berikut ini.
1.    Peningkatan sekresi estrogen pada pubertas,
2.    Variasi siklus seksual bulanan,
3.    Peningkatan sekresi estrogen lebih lanjut selama beberapa tahun pertama dari kehidupan seksual,
4.    Terjadi penurunan progresif dari sekresi estrogen menjelang akhir kehidupan seksual,
5.    Hampir tidak ada sekresi estrogen dan progesteron sesudah menopause.

2.5.        Fertilisasi
Kehamilan terjadi didahului fertilisasi atau konsepsi yaitu penyatuan sebuah sel telur dengan sebuah sperma yang berarti pula terjadi penyatuan materi genetik dari ovum seorang wanita dengan materi genetik dari sperma seorang pria.
Fertilisasi terjadi pada saat wanita dalam periode masa subur yaitu setelah terjadi ovulasi dan oosit sekunder bergerak disepanjang tuba faloopi menuju uterus. Dari 200 hingga 400 juta sperma hasil ejakulasi di dalam vagina, sebagian yang tertinggal di vagina akan terseleksi oleh asam vagina dan hanya beberapa ratus ribu sperma yang dapat mencapai uterus. Dengan bantuan kontraksi otot uterus, sperma akan menyebar diseluruh permukaan uterus. Sebagian dari sperma ini terseleksi kembali oleh sel darah putih di dalam uterus sehingga akhirnya hanya tinggal beberapa ribu bahkan hanya beberapa ratus yang berhasil mencapai tuba fallopi untuk bertemu dengan ovum.
Sperma harus menembus korona radiata dan zona pelusida yang menembus oosit sekunder. Baik sperma maupun oosit sekunder saling mengeluarkan enzim dan zat tertentu yang saling mendukung sehingga sperma dapat menembus pembungkus oosit sekunder.
Pada sperma, bagian akrosom sperma mengeluarkan :
1.    Hialuroidase, suatu enzim yang dapat melarutkan senyawa hialuronid pada korono radiata.
2.    Akrosin, suatu enzim protease yang dpat menghancurkan senyawa glukoprotein pada zona pelusida.
3.    Antifertilizin, antigen terhadap oosit sekunder sehingga sperma dapat melekat pada oosit sekunder.
Sedangkan oosit sekunder mengeluarkan fertilizin, yang tersusun dari senyawa glikopro. Fertilizin berfungsi :
1.    Mengaktifkan sperma agar bergerak cepat.
2.    Menarik sprema secara kemotaksis positif.
3.    Mengumpulakn sperma disekeliling oosit sekunder.
Bila sebuah sperma telah menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit di bagian kortek oosit akan mengeluarkan senyawa tertentu yang menyebabkan zona pelusida tidak dapat ditembus oleh sperma lain. Adanya penetrasi sperma juga akan merangsang penyelesaian meiosis 2 sehingga dihasilkan sebuah ovum yang fungsional dan tiga buah polosit degeneratif.
Segera setelah sperma memasuki oosit sekunder, inti nukleus pada kepala sperma akan membesar dan ekor sperma akan mengalami degenerasi, kemudian terjadi penyatuan inti sperma yang mengandung kromosom haploid dan ovum yang haploid sehingga terbentuk zigot yang mengandung kromosom diploid atau 46 buah kromosom.
Kurang lebih 24 jam setelah fertilisasi, zigot mengalami proses pembelahan (cleavage) menjadi morula dan selanjutnya menjadi blastula. Mula-mula zigot membelah menjadi beberapa buah sel dengan ukuran sama berbentuk bulat menyerupai buah arbei yang disebut morula. Morula terus membelah hingga membentuk rongga yang disebut blastocoel , pada fase ini embrio disebut blastula. Blastula akan menempel dan terimplantasi pada endometirum. Sel-sel bagian dalam blastula akan berkembang menjadi embrio yang terdiri atas tiga lapis jaringan yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm. Ketiga lapis jaringan tersebut akan mengalami organogenesis atau berkembang menjadi berbagai macam organ.




BAB III
PEMBAHASAN
3.1.       Definisi
Kehamilan adalah hal yang luar biasa karena menyangkut perubahan fisiologis, biologis dan psikis yang mengubah hidup seorang wanita. Kehamilan dengan kasus khusus misalnya hamil bermasalah kecemasan yang menghantui ibu hamil juga mempengaruhi turun naiknya kadar hormon. Selain itu, ibu yang menjalani kehamilan dengan kasus khusus, misalnya hamil bermasalah atau pernah mengalami keguguran juga mengalami keguguran juga mengalami kecemasan (Maulana, 2007).

Kehamilan adalah masa di mana seorang wanita membawa embrio fetus di dalam tubuhnya. Dalam kehamilan dapat terjadi banyak gestasi (misalnya dalam kasus kembar atau triplet). Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi dan kelahiran 6 minggu dari pembuahan. Istilah medis untuk wanita hamil adalah "gravida" sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal ) dan kemudian janin (sampai kelahiran). Primigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kalinya, sedangkan multigravida adalah seoprang wanita yang sudah pernah hamil dua kali atau lebih (Bobak, 2005).

Kehamilan adalah pertuumbuhan janin intrauterin mulai sejak 280-300 hari dengan perhitungan yang terbagi atas triwulan I (0-12 minggu usia kehamilan), Triwulan II (13-28 minggu usia kehamilan), triwulan III (29-42 minggu usia kehamilan).




3.2.       Tanda dan gejala kehamilan
Tanda dan gejala kehamilan utnuk dapat menegakkan kehamilan menurut Saifudin (2004) dengan melakukan penilaian terhadap ;
1.    Tanda – tanda tidak pasti hamil meliputi ;
a)    Amenorhea (terlambat datang bulan)
konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi folikel de graff dan ovulasi. Bila seorang wanita dalam masa mampu hamil, apabila sudah kawin mengeluh terlambat haid, maka pikirkan bahwa dia hamil, meskipun keadaan stress, obat-obatan, penyakit kronis dapat pula mengakibatkan terlambat haid.
b)   Mual
Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam lambung yang berlebihan menyebabkan mual dan muntah. Mual dan muntah merupakan gejala umum, mulai dari rasa tidak enak sampai muntah yang berkepanjangan. Dalam kedokteran sering dikenal morning sickness karena munculnya seringkali pagi hari. Mual dan muntah diperberat oleh makanan yang baunya menusuk dan juga oleh emosi penderita yang tidak stabil. Untuk mengatasinya penderita perlu di beri makan-makanan yang ringan, mudah di cerna dan jangan lupa menerangkan bahwa
Keadaaan ini dalam batas normal orang hamil. Bila berlebihan dapat pula diberikan obat-obat anti muntah.
a.       Ngidam : keinginan untuk makan tertentu
b.      Pingsan : terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan menimbulkan pingsan.
c.       Mastodinia : rasa kencang dan sakit pada payudara disebabkan payudara membesar. Vaskularisasi bertambah, asinus dan duktus beproliferasi karena pengaruh estrogen dan progesterone dan somatomamotropin.
d.      Konstipasi : pengaurh progesterone dapat menghambat peristaltic usus dan menyebabkan kesulitan untuk buang air besar.
e.       Hiperpigmentasi kulit
a)      Sekitar pipi : Keluarnya melanophore stimulating hormone hipofisi anterior menyebabkan pigmnetasi kulit. Setelah kehamilan 16 minggu kulit didaerah muka menjadi gelap dan menjadi semakin gelap bila terkena sinar matahari.
b)      Dinding perut : Striae lividae, striae nigrra, linea alba atau nigra. Hal ini disebakan oleh separasi jaringan kolagen yang terlihat sebagai jaringan parut irregular yang diperkirakan akibat pengaruh hormone adrenocorticosteroid.
c)      Sekitar payudara : hiperpigmentasi areola mamae , putting susu makin menonjol , kelenjar montgomet menonjol, pembuluh manifest sekitar putting. Warna putting susu dan linea alba menjadi gelap akibat adnaya rangsangan oleh menanophore akibat peningkatan MSH (Melanocyte Stimulating Hormone).
·         Varises : karena pengaruh dari estrogen dan progesterone terjadi penampakan pembuluh darah vena.
f.       Perubahan berat badan : pada kehamilan 2-3 bulan sering terjadi penurunan berat badan, karena nafsu makan menurun dan muntah-muntah. Pada bulan selanjutnya berat badan akan selalu meningkat sampai stabil menjelang aterm.

2.    Tanda – tanda mungkin hamil
a)      Tanda Hegar : Segmen bawah uterus lembek pada perabaan.
b)      Tanda Chadwicks : Vagina berwarna kebiru-biruan, terjadi kira-kira minggu keenam.
c)      Tanda Piscasek : Terjadinya pertumbuhan yang asimetris pada bagian uterus yang dekat dengan  implatasi plasenta.
d)     Kontraksi Braxton His : Uterus berkontraksi bila dirangsang, tanda ini khas untuk uterus pada masa kehamilan.
e)      Tanda Goodell’s : Diketahui melalui pemeriksaan bimanual. Serviks terasa lebih lunak. Penggunaan kontrasepsi oral juga dapat memberikan dampak ini.
f)       Tanda Mc Donald : Fundus uteri dan serviks bisa dengan mudah difleksikan satu sama lain dan tergantung pada lunak atau tidaknya jaringan isthmus.
g)      Terjadi pembesaran abdomen : Pembesaran perut menjadi nyata setelah minggu ke 16, karena pada saat itu uterus telah keluar dari rongga pelvis dan menjadi organ rongga perut.
h)      Kontraksi uterus : Tanda ini muncul belakangan dan pasien  mengeluh  perutnya kencang, tetapi tidak disertai rasa sakit.
i)        Pemeriksaan tes biologis kehamilan : Pada pemeriksaan ini hasilnya positif, dimana kemungkinan positif palsu.

3.    Tanda pasti hamil
a)      Denyut Jantung Janin (DJJ)
Dapat didengar dengan stetoskop laenec pada minggu 17 - 18. Pada orang gemuk lebih lambat. Dengan stetoskop ultrasonic (Doppler), DJJ dapat didengarkan lebih awal lagi sekitar minggu ke-12. Melakukan auskultasi pada janin bisa juga mengidentifikasi bunyi-bunyi yang lain, seperti bising tali pusat, bising uterus dan nadi ibu.
b)      Palpasi
Yang harus ditentukan adalah outline janin. Biasanya menjadi jelas setelah minggu ke 22. Gerakan janin dapat dirasakan dengan jelas setelah minggu ke 24 (Kusmiyati.dkk, 2008, pp.93-97).


3.3.       Deteksi kehamilan dengan kadar Hcg
Diagnose kehamilan :
a)    Terdapat rekasi silang antara LH dengan β-subunit hCG pada tes kehamilan.
b)   hCG dihasilkan oleh sinstiotrofoblas sejak hari ke-8 pasca fertilisasi dan terdeteksi pada hari ke-9.
c)    Puncak kadar hCG urine adalah pada sekitar hari ke-90
Waktu paruh hCG 1,5 hari.
d)     Kadar hCG srum dan urine pada situasi normal kembali ke nilai sebelum kehmilan.
Home pregnancy test merupakan tes imunologi sehingga juga memiliki masalah dalam interpretasi. hCG yang di deteksi melalui urine pertama pada pagi hari. Tes positif ditunjukkan melalui adanya perubahan warna. Bila tes menunjukkan hasil negative , diulang 2 minggu kemudian atau dilakukan pemeriksaan radioimmunoassay.
Pemeriksaan radioimmunoassay hCG merupakan tes spesifik dan sensitive. Tidak terdapat reaksi silang dengan LH dan secara laboratoris, tes ini dapat mendeteksi kadar serum antara 2 mIU/ml.

3.4.       Perubahan psikologis pada wania hamil
Perubahan psikologis pada wanita hamil menurut trimester kehamilan adalah :
a.    Trimester I
1)   Rasa Cemas Bercampur Bahagia
Perubahan psikologis yang paling menonjol pada usia kehamilan trimester pertama ialah timbulnya rasa cemas dan ragu sekaligus disertai rasa bahagia. Munculnya rasa ragu dan khawatir sangat berkaitan pada kualitas kemampuan untuk merawat dan mengasuh bayi dan kandungannya, sedangkan rasa bahagia dikarenakan dia merasa sudah sempurna sebagai wanita yang dapat hamil.
2)   Perubahan Emosional
Perubahan-perubahan emosi pada trimester pertama menyebabkan adanya penurunan kemauan berhubungan seksual, rasa letih dan mual, perubahan suasana hati, cemas, depresi, kekhawatiran ibu tentang kesejahteraannya dan bayinya, kekhawatiran pada bentuk penampilan diri yang kurang menarik dan sebagainya.
3)   Sikap Ambivalen
Sikap ambivalen menggambarkan suatu konflik perasaan yang bersifat simultan, seperti cinta dan benci terhadap seseorang, sesuatu atau kondisi.7 Meskipun sikap ambivalen sebagai respon individu yang normal, tetapi ketika memasuki fase pasca melahirkan bisa membuat masalah baru. Penyebab ambivalensi pada ibu hamil yaitu perubahan kondisi fisik, pengalaman hamil yang buruk, ibu karier, tanggung jawab baru, rasa cemas atas kemampuannya menjadi ibu, keuangan dan sikap penerimaan keluarga terdekatnya.
4)   Ketidakyakinan atau Ketidakpastian
Awal minggu kehamilan, ibu sering tidak merasa tidak yakin pada kehamilannya. Dan hal ini diperparah lagi jika ibu memiliki masalah emosi dan kepribadian. Meskipun demikian pada kebanyakan ibu hamil terus berusaha untuk mencari kepastian bahwa dirinya sedang hamil dan harus membutuhkan perhatian dan perawatan khusus buat bayinya.
5)   Perubahan Seksual
Selama trimester pertama keinginan seksual wanita menurun. Hal-hal yang menyebabkannya berasal dari rasa takut terjadi keguguran sehingga mendorong kedua pasangan menghindari aktivitas seksual.
6)   Fokus pada Diri Sendiri
Pada bulan-bulan pertama kehamilan, sering kali pikiran ibu lebih berfokus kepada kondisi dirinya sendiri, bukan kepada janin. Meskipun demikian bukan berarti ibu kurang memperhatikan kondisi bayinya. Ibu lebih merasa bahwa janin yang dikandungnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
7)   Stres
Kemungkinan stres yang terjadi pada masa kehamilan trimester pertama bisa berdampak negatif dan positif, dimana kedua stres ini dapat mempengaruhi perilaku ibu. Terkadang stres tersebut bersifat instrinsik dan ekstrinsik. Stres ekstrinsik timbul karena faktor eksternal seperti sakit, kehilangan, kesendirian dan masa reproduksi.
8)   Goncangan Psikologis
Terjadinya goncangan jiwa diperkirakan lebih kecil terjadi pada trimester pertama dan lebih tertuju pada kehamilan pertama.

b.    Trimester II
Selama fase trimester kedua kehidupan psikologi ibu hamil tampak lebih tenang, namun perhatian ibu mulai beralih pada perubahan bentuk tubuh, kehidupan seks, keluarga dan hubungan batiniah dengan bayi yang dikandungnya, serta peningkatan kebutuhan untuk dekat dengan figur ibu, melihat dan meniru peran ibu serta meningkatnya ketergantungan ibu pada pasangannya. Beberapa bentuk perubahan psikologis pada trimester kedua, yaitu :
1)   Rasa Khawatir / Cemas
Kekhawatiran yang mendasar pada ibu ialah jika bayinya lahir sewaktu-waktu. Keadaan ini menyebabkan peningkatan kewaspadaan terhadap datangnya tanda-tanda persalinan. Hal ini diperparah lagi dengan kekhawatiran jika bayi yang dilahirkannya tidak normal. Paradigma dan kegelisahan ini membuat kebanyakan ibu berusaha mereduksi dengan cara melindungi bayinya dengan memakan vitamin, rajin kontrol dan konsultasi, menghindari orang atau benda-benda yang dianggap membahayakan bayinya.

2)   Perubahan Emosional
Perubahan emosional trimester II yang paling menonjol yaitu periode bulan kelima kehamilan, karena bayi mulai banyak bergerak sehingga ibu mulai memperhatikan bayi dan memikirkan apakah bayinya akan dilahirkan sehat atau cacat. Rasa kecemasan ini terus meningkat seiring bertambahnya usia kehamilannya.
3)   Keinginan untuk Berhubungan Seksual
Pada trimester kedua terjadi peningkatan energi libido sehingga pada kebanyakan ibu menjadi khawatir jika dia berhubungan seksual apakah ini dapat mempengaruhi kehamilan dan perkembangan janinnya. Bentuk kekhawatiran yang sering terjadi adalah apakah ada kemungkinan janinnya cedera akibat penis, orgasme ibu, atau ejakulasi. Meskipun demikian, yang perlu diketahui hubungan seks pada masa hamil tidak berpengaruh karena janin dilindungi cairan amnion di dalam uterus.

c.    Trimester III
1)      Rasa Tidak Nyaman
Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali pada trimester ketiga dan pada kebanyakan ibu merasa bentuk tubuhnya semakin jelek. Selain itu, perasaan tidak nyaman juga berkaitan dengan adanya perasaan sedih karena akan berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama hamil sehingga ibu membutuhkan dukungan dari suami, keluarga, bidan.
2)      Perubahan Emosional
Pada bulan-bulan terakhir menjelang persalinan perubahan emosi ibu semakin berubah-ubah dan terkadang menjadi tak terkontrol. Perubahan emosi ini bermuara dari adanya perasaan khawatir, cemas, takut, bimbang dan ragu jangan-jangan kondisi kehamilannya saat ini lebih buruk lagi saat menjelang persalinan atau kekhawatiran dan kecemasan akibat ketidakmampuannya dalam menjalankan tugas-tugas sebagai ibu pasca kelahiran bayinya.

3.5.       Perubahan Fisiologis Pada Wanita Hamil
Pada masa kehamilan ada beberapa perubahan pada hampir semua sistem organ pada maternal. Perubahan ini diawali dengan adanya sekresi hormon dari korpus luteum dan plasenta. Efek mekanis pada pembesaran uterus dan kompresi dari struktur sekitar uterus memegang peranan penting pada trimester kedua dan ketiga. Perubahan fisiologis seperti ini memiliki implikasi yang relevan bagi dokter anestesi untuk memberikan perawatan bagi pasien hamil. Perubahan yang relevan meliputi perubahan fungsi hematologi, kardiovaskular, ventilasi, metabolik, dan gastrointestinal (Santos,et.al., 2006).
Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh genitalia wanita mengalami perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim. Plasenta dalam perkembangannya mengeluarkan hormone somatomatropin, estrogen, dan progesteron yang menyebabkan perubahan pada:
·      Rahim atau uterus
Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan melindungi hasil konsepsi (janin, plasenta, amnion) sampai persalinan. Uterus mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk bertambah besar dengan cepat selama kehamilan dan pulih kembali seperti keadaan semula dalam beberapa minggu setelah persalinan. Pada perempuan tidak hamil uterus mempunyai berat 70 gram dan kapasitas 10 ml atau kurang. Selama kehamilan, uterus akan berubah menjadi suatu organ yang mampu menampung janin, plasenta, dan cairan amnion rata-rata pada akhir kehamilan volume totalnya mencapai 5 liter bahkan dapat mencapai 20 liter atau lebih dengan berat rata-rata 1100 gram (Prawirohardjo, 2008).


·      Vagina (liang senggama)
Selama kehamilan peningkatan vaskularisasi dan hyperemia terlihat jelas pada kulit dan otot-otot di perineum dan vulva, sehingga pada vagina akan terlihat bewarna keunguan yang dikenal dengan tanda Chadwicks. Perubahan ini meliputi penipisan mukosa dan hilangnya sejumlah jaringan ikat dan hipertrofi dari sel-sel otot polos.
·      Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel baru juga ditunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat ditemukan di ovarium. Folikel ini akan berfungsi maksimal selama 6-7 minggu awal kehamilan dan setelah itu akan berperan sebagai penghasil progesterone dalam jumlah yang relative minimal (Prawirohardjo, 2008).
·      Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaru hormone saat kehamilan, yaitu estrogen, progesterone, dan somatromatropin (Prawirohardjo, 2008).
Akibat pengaruh estrogen terjadi hiperplasia sistem duktus dan jaringan interstisial payudara. Hormon laktogenik plasenta (diantaranya somatomammotropin) menyebabkan hipertrofi dan pertambahan sel-sel asinus payudara, serta meningkatkan produksi zat-zat kasein, laktoalbumin, laktoglobulin, sel-sel lemak, kolostrum. Mammae membesar dan tegang, terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofi kelenjar montgomery, terutama daerah areola dan papilla akibat pengaruh melanofor. Puting susu membesar dan menonjol (beberapa kepustakaan tidak memasukkan payudara dalam sistem reproduksi wanita yang dipelajari dalam ginekologi.
Masing-masing payudara terbentuk dari 15-20 lobulus glandular yang terpisah dengan fat. Payudara membesar saat kehamilan akibat proliferasi kelenjar dan duktus dibawah pengaruh estrogen dan progesteron. Sekresi kolustrum terjadi pada trimester pertama dan berlanjut sampai aterm.
Payudara menjadi besar ukurannya bisa mencapai 800 gr, keras dan menghitam di sekitar puting susu, ini menandakan dimulainya proses menyusui. Segera menyusui bayi sesaat setelah lahir (walaupun ASI belum keluar ) dapat mencegah perdarahan dan merangsang produksi ASI. Pada hari ke 2 hingga ke 3 akan diproduksi kolostrum atau susu jolong yaitu ASI berwarna kuning keruh yang kaya akan anti body, dan protein, sebagian ibu membuangnya karena dianggap kotor, sebaliknya justru ASI ini sangat bagus untuk bayi.
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologi yaitu :
·         Produksi susu
·         Sekresi susu atau let down
Selama sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika hormone yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk menghambatnya kelenjar pituitary akan mengeluarkan prolaktin (hormone laktogenik). Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai biasa dirasakan. Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak dan rasa sakit. Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi. Ketika bayi menghisap puting, reflek saraf merangsang lobus posterior pituitary untuk untuk menyekresikan hormone oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let down sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus aktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada puting.
Selain perubahan – perubahan pada beberapa bagian tubuh, juga terjadi perubahan – perubahan pada system tubuh yaitu antara lain :
1)   Sirkulasi darah ibu (Sistem kardiovaskular)
Peredaran darah ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a.    Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
b.    Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi.
c.    Pengaruh hormon estrogen dan progesteron semakin meningkat.
Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran darah, yaitu:
1)   Volume darah
Volume darah semakin meningkat di mana jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada hamil 32 minggu. Serum darah (volume darah) bertambah sebesar 25-30% sedangkan sel darah bertambah sekitar 20%. Curah jantung akan bertambah sekitar 30%. Bertambahnya hemodilusi darah mulai tampak sekitar umur hamil 16 minggu, sehingga pengidap penyakit jantung harus berhati-hati untuk hamil beberapa kali. Kehamilan selalu memberatkan kerja jantung sehingga wanita hamil dengan sakit jantung dapat jatuh dalam dekompensasio kordis. Pada postpartum terjadi hemokonsentrasi dengan puncak hari ketiga sampai kelima.
2)   Sel darah
Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodilusi yang disertai anemia fisiologis. Sel darah putih meningkat dengan mencapai jumlah sebesar 10.000/ml. Dengan hemodilusi dan anemia maka laju endap darah semakin tinggi dan dapat mencapi 4 kali dari angka normal.
3)   Sistem respirasi
Adaptasi respirasi selama kehamilan dirancang untuk mengoptimalkan oksigenasi ibu dan janin, serta memfasilitasi perpindahan produk sisa CO2 dari janin ke ibu (Norwitz,et.al., 2008).
Konsumsi oksigen dan ventilasi semenit meningkat secara progresif selam masa kehamilan. Volume tidal dan dalam angka yang lebih kecil, laju pernafasan meningkat. Pada aterm konsumsi oksigen akan meningkat sekitar 20-50% dan ventilasi semenit meningkat hingga 50%. PaCO2 menurun sekitar 28-32mm Hg. Alkalosis respiratorik dihindari melalui mekanisme kompensasi yaitu penurunan konsentrasi plasma bikarbonat. Hiperventilasi juga dapat meningkatkan PaO2 secara perlahan. Peningkatan dari 2,3-difosfogliserat mengurangi efek hiperventilasi dalam afinitas hemoglobin dengan oksigen. Tekanan parsial oksigen dimana hemoglobin mencapai setengah saturasi ketika berikatan dengan oksigen meningkat dari 27 ke 30 mm Hg. hubungan antara masa akhir kehamilan dengan peningkatan curah jantung memicu perfusi jaringan (Morgan, 2006).
Posisi dari diafragma terdorong ke atas akibat dari pembesaran uterus dan umumnya diikuti pembesaran dari diameter anteroposterior dan transversal dari cavum thorax. Mulai bulan ke lima, expiratory reserve volume, residuak volume,dan functional residual capacity menurun, mendekati akhir masa kehamilan menurun sebanyak 20 % dibandingkan pada wanita yang tidak hamil. Secara umum, ditemukan peningkatan dari inspiratory reserve volume sehingga kapasitas paru total tidak mengalami perubahan. Pada sebagian ibu hamil, penurunan functional residual capacity tidak menyebabkan masalah, tetapi bagi mereka yang mengalami perubahan pada closing volume lebih awal sebagai akibat dari merokok, obesitas, atau skoliosis dapat mengalami hambatan jalan nafas awal dengan kehamilan lanjut yang menyebabkan hipoksemia. Manuver tredelenburg dan posisi supin juga dapat mengurangi hubungan abnormal antara closing volume dan functional residual capacity. Volume residual dan functional residual capacity kembali normal setelah proses persalinan (Santos,et.al., 2006).
4)   Sistem pencernaan
Terjadi peningkatan asam lambung karena pengaruh estrogen. Fungsi gastrointestinal dalam masa kehamilan dan selama persalinan menjadi topik yang kontroversial. Namun, dapat dipastikan bahwa traktus gastrointestinal mengalami perubahan anatomis dan fisiologis yang meningkatkan resiko terjadinya aspirasi yang berhubungan dengan anestesi general (Birnbach, et.al., 2009).
Refluks gastroesofagus dan esofagitis adalah umum selama masa kehamilan. Disposisi dari abdomen ke arah atas dan anterior memicu ketidakmampuan dari sfingter gastroesofagus. Peningkatan kadar progestron menurunkan tonus dari sfingter gastroesofagus, dimana sekresi gastrin dari plasenta menyebabkan hipersekresi asam lambung. Faktor tersebut menempatkan wanita yang akan melahirkan pada resiko tinggi terjadinya regurgitasi dan aspirasi pulmonal. Tekanan intragaster tetap tidak mengalami perubahan. Banyak pendapat yang menyatakan mengenai pengosongan lambung. Beberapa penelitian melaporkan bahwa pengosongan lambung normal bertahan sampai masa persalinan. Di samping itu,hampir semua ibu hamil memiliki pH lambung di bawah 2.5 dan lebih dari 60% dari mereka memiliki volume lambung lebih dari 25mL. kedua faktor tersbut telah dihubungkan memiliki resiko terhadap terjadinya aspirasi pneumonitis berat. Opioid dan antikolinergik menurunkan tekanan sfingter esofagus bawah, dapat memfasilitasi terjadinya refluks gastroesofagus dan penundaan pengosongan lambung. Efek fisiologis ini bersamaan dengan ingesti makanan terakhir sebelum proses persalinan dan penundaan pengosongan lambung mengakibatkan nyeri persalinan dan merupakan faktor predisposisi pada ibu hamil akan terjadinya muntah dan mual (Morgan, 2006).
5)   Sistem Ginjal dan Perkemihan
·      Renal
Vasodilatasi renal mengakibatkan peningkatan aliran darah renal pada awal masa kehamilan tetapi autoregulasi tetap terjaga. Ginjal umumnya membesar. Peningkatan dari renin dan aldosterone mengakibatkan terjadinya retensi sodium. Aliran plasma renal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sebanyak 50% selama trimester pertama dan laju filtrasi glomerulus menurun menuju ke batas normal pada trimester ketiga. Serum kreatinin dan Blood Urea Nitrogen (BUN) mungkin menurun menjadi 0.5-0.6 mg/dL dan 8-9mg/dL. Penurunan threshold dari tubulus renal untuk glukosa dan asam amino umum dan sering mengakibatkan glukosuria ringan(1-10g/dL) atau proteinuria (<300 mg/dL). Osmolalitas plasma menurun sekitar 8-10 mOsm/kg (Morgan, 2006).
·      Traktur Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih akan tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering kemih. Keadaan ini akan hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, jika kepala janin sudah mulai turun ke pintu panggul, keluhan itu akan timbul kembali.
6)   Sistem endokrin
Perubahan Hormonal Selama Kehamilan Perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan terutama meliputi perubahan konsentrasi hormon seks yaitu progesteron dan estrogen. Pada awal kehamilan, terjadi peningkatan hormon hCG dari selsel trofoblas. Juga terdapat perubahan dari korpus luteum menjadi korpus luteum gravidarum yang memproduksi estrogen dan progesteron.
Pada pertengahan trimester satu, produksi hCG menurun, fungsi korpus luteum gravidarum untuk menghasilkan estrogen dan progesteron pun digantikan oleh plasenta. Pada trimester dua dan tiga, produksi estrogen dan progesteron terus megalami peningkatan hingga mencapai puncaknya pada akhir trimester tiga. Kadar puncak progesteron dapat mencapai 400 mg/hari dan estrogen 20mg/hari.
Estrogen dan progesteron memiliki peran penting yang mempengaruhi sistem organ termasuk rongga mulut. Reseptor bagi estrogen dan progesteron dapat ditemukan pada jaringan periodontal. Maka dari itu, ketidakseimbangan hormonal juga dapat berperan dalam patogenesis penyakit periodontal. Peningkatan hormon seks steroid dapat mempengaruhi vaskularisasi gingiva, mikrobiota subgingiva, sel spesifik periodontal, dan sistem imun lokal selama kehamilan.
Selama kehamilan normal kelenjar hipofisis akan membesar 135%, akan tetapi kelenjar ini tidak begitu mempunyai arti penting dalam kehamilan. Pada perempuan yang mengalami hipofisektomi persalinan dapat beralan dengan lancar. Hipofisis meningkatkan produksi kortikotropin, tirotropin, dan prolaktin. Sebaliknya, FSH dan LH hampir ditekan akibatnya efek penghambat estrogen dan progesterone dari plasenta.
Pada kehamilan, ADH disekresi lebih banyak karena disebabkan oleh peningkatan sirkulasi darah di ginjal sehingga filtrasi glomerulus juga meningakt sampai 69%. Reabsorbsi di tubulus tidak berubah, sehingga lenbih banyak dikeluarkan urea, glukosa, asam amino, asam folat dalam kehamilan sehingga terjadi poliuria.
Hormon yang disekresi oleh plasenta yang mempengaruhi anatomi fisiologi ibu hamil adalah :
·      HCG
Bersamaan dnegan pekembangan sel trofoblast dari sebuah ovum yang baru dibuahi. Hormon HCG disekresi oeh sinsitiotrofoblast kedalam cairan ibu, Sekresi hormone ino dapat diukur pertama kali dalam darah 8 – 9 hari setelah obvulasi. Segera setelah blaskostika berimplantasi dalam endometrium. Kemudian ekcepatan sekresi akan meningkat sampai maksimal minggu ke-8 setelah ovulasi, dan menurun sampai kadar yang lebih rendah menjelang 16 – 20 minggu setelah ovulasi. Sekresi terus berlanjut pada kadar terendah ini selama sisa kehamilan.
HCG menyebabkan sekresi hormone seks, progesterone, dan estrogen dalam jumlah besar oleh corpus luteum untuk eberapa bulan kedapan. Sekresi hormone ini (progesterone dan estrogen) akan mencegah menstruasi dan menyebabkan endometrium terus berkembang dan menyimpan sejumlah besar nutrisi daripada luruh saat menstruasi. Akibatnya sel – sel yang menyerupai desidua yang berkembang dalam endometrium selama siklus seksual wanita normal menjadi sel – sel desidua yang sangat membengkak dan banyak mengandung nutrisi.
Funsgi dari hormone HCG :
1.      untuk mempertahankan korpus luteum dan mencegah menstruasi.
2.      mempengaruhi korpus luteum menjadi korpus gravidarum.
3.      mempengaruhi testis janin dengan merangsang sel –sel intertisial levding utnuk menghasilkan testosterone dalam jumlah sedikit mengakibatkan organ kelamin pria lah yang terbentuk.

Namun, kadar HCG yang tinggi dalam darah akan menyebabkan mual – muntah (morning sickness).
§  Estrogen dan progesterone
Disekresi oleh sel – sel sinsial trofoblas. Sebagian besar estrogen yang disekresi adalah estriol yaitu estrogen yang lemah dan dibentuk dalam jumlah kecil pada wanita tidak hamil.
Estrogen di plansenta tidak disintesis secara de novo dari zat – zat dasar plasenta, namun dari senyawa steroid androgen, dehidoepiandrogen dan 16-hidroksidehidroepiandrosteron, yang dibentuk pada kelenjar adrenal ibu dan fetus, androgen yang lemah ini kemudian di bawah ke plasenta dan diubah oleh sel – sel trofoblas menjadi estradiol , estron dan, estriol.
Kadar estrogen yang tinggi selama kehamilan menyebabkan pembesaran uterus, pembesaran payudara dan pertumbus duktus payudara, serta pembesaran genitalia eksterna wanita. Estrogen juga merelaksasi berbagai ligamentum pelvis, sheingga persendian mempermudah jalannya fetus melalui jalur lahir.
Progesterone selama kehamilan dapat menyebabkan penebalan endometrium sehingga sel telur yang sudah dibuahi dapat berimplantasi dan menyebakan relaksasi. Hormon ini juga mengakibatkan otot – otot polos yang berakibat pada ; meningkatkan waktu pengosongan lambung dan peristaltic usus, meningkatkan gastric efek Karena relaksasi kardiak sfingter sehingga menyebabkan rasa panas dalam perut, penurunan motilitas gastrointestinal sehingga menyebabkan konstipasi, pembuluh darah arteri dan vena relaksasi dan dikatasi sehingga meningkatkan kapasitas vena dan venule yang menyebabkan wasir, menjada peningkatan suhu basal ibu, merangkan oerkembangan system alveolar payudara, dengan hormone relaksasi melembutkan / mengendurkan jaringan ikat, ligament, otot sehingga dapat mengurangi sakit punggung dan nyeri ligament.
§  Korionik somatomammotropin
Merupakan hormone plasenta yang baru ditemukan. Hormone ini merupakan hormone protein dengan berta molekul 38000 yang mulai disekresi oleh plasenta kira – kira minggu ke – 5 kehamilan. Hormone ini memiliki fungsi utnuk metabolism protein, bersifat laktogenik, dan luteotropik, yang menimbulkan pertumbuhan janin , dan mengatur metabolism karbohidart dan lemak.
§  HPL / Human Placenta Lactogen
Adalah hormone yang dihasilkan oleh plasenta yang merupakan hormone protein yang merangsang pertumbuhan dan menyebabkan perubahan dalam metabolism karbohidrat dan lemak. Hormone ini berperan perning dalam produksi ASI. Kadar HPL yang rendah mengindikasikan plasenta yang tidak berfungsi dengan baik.

§  Relaksin hormone
Dihasilkan oleh corpus luteum, ovarium, dan juga oleh jaringan plasenta. Sekresi relaksin ini ditingkatkan oleh efek rangsangan dari HCG padsa saat yang sama dengan sekresinya sejumlah besar estrogen dan progesterone. Relaksasin ini berfungsi melunakkan servik wanita hamil pada saat persalaninan dan merileksasikan otot- otot polos.
7)   Sistem Integumen
Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna menjadi kemerahan, kusam, dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah payudara dan paha. Perubahan ini dikenal dengan nama striae gravidarum. 
8)   Metabolisme
Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh mengalami perubahan yang mendasar, dimana kebutuhan nutrisi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan pemberian ASI.
Diperkirakan selama kehamilan berat badan akan bertambah 12,5 kg. Sebgaian besar penambahan berat badan selama kehamilan berasal dari uterus dan isinya. Kemudian payudara, volume darah, dan cairan ekstraselular. Pada kehamilan normal akan terjadi hipoglikemia puasa yang disebabkan oleh kenaikan kadar insulin, hiperglikemia postprandial dan hiperinsulinemia.
Zinc (Zn) sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Beberapa peneliatian menunjukkan kekurangan zat ini dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat.  (Prawirohardjo, 2008).











BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Kehamilan adalah hal yang luar biasa karena menyangkut perubahan fisiologis, biologis dan psikis yang mengubah hidup seorang wanita.
Bagi seorang wanita kehamilan ini adalah suatu anugrah yang di berikan oleh yang maha kuasa.


















DAFTAR PUSTAKA